Ucapan terimakasih bagi seluruh Kepala Sekolah yang menyadari pentingnya penguasaan konsep manajerial dan berani untuk meningkatkan kompetensi. Bagi kepala sekolah hasil transaksional sadarlah efektivitas kebijakan sangat bergantung kepada landasan filosfis berpikir dan keterampilan konseptual operasional. Sadari kembali hasil kebijakan yang dibuat, tidak hanya berdampak terhadap individu seseorang melainkan keluarganya.
Orang besar adalah orang yang menyadari arti kepentingan, bukan hadir demi kepentingan..
semoga uraian narasi berikut menjadi salah satu cermin perbandingan untuk menggugah nalar kita.
KEPALA SEKOLAH VS KEPALA AYAM
Ada masa ketika jabatan diberikan kepada yang paling mampu. Namun zaman berubah. Hari ini, tidak sedikit jabatan hadir bukan sebagai penghargaan atas kompetensi, melainkan hasil dari transaksi, kedekatan, balas jasa, hubungan keluarga, atau kompromi politik yang panjang. Ketika itu terjadi, sekolah tidak lagi dipimpin oleh pemimpin pendidikan, melainkan oleh seseorang yang kebetulan duduk di kursi kepala sekolah.
Secara filosofis, kepala sekolah dan kepala ayam memiliki satu kesamaan: sama-sama berada di atas tubuh. Namun di situlah kesamaannya berakhir.
Kepala ayam tetap memiliki fungsi biologis yang jelas. Ia mengarahkan gerak tubuh, membantu mencari makan, mengenali bahaya, dan menjaga keberlangsungan hidup kawanan. Sementara sebagian kepala sekolah justru menjadi beban bagi tubuh organisasi yang dipimpinnya. Ia berada di atas, tetapi tidak mampu melihat arah. Ia memiliki jabatan, tetapi kehilangan kemampuan memimpin.
Kepala ayam tidak pernah meminta menjadi kepala. Alam yang menempatkannya. Sebaliknya, sebagian kepala sekolah begitu bernafsu mengejar jabatan hingga mengorbankan prinsip profesionalisme. Setelah berhasil menduduki kursi kekuasaan, yang tumbuh bukan visi pendidikan, melainkan kewajiban membayar utang politik kepada pihak-pihak yang mengantarkannya.
Kepala ayam tidak mengenal konflik kepentingan. Ia tidak membedakan anak ayam berdasarkan hubungan keluarga. Ia tidak memberi prioritas kepada kerabat. Semua anggota kawanan menghadapi risiko dan peluang yang sama. Namun dalam banyak organisasi pendidikan, konflik kepentingan justru menjadi budaya yang diwariskan. Kompetensi dikalahkan kedekatan. Prestasi dikalahkan loyalitas. Profesionalisme dikalahkan kekerabatan.
Yang lebih ironis, kepala ayam yang sudah dipotong masih mampu membuat tubuhnya berlari beberapa saat. Sebaliknya, sebagian kepala sekolah yang masih lengkap kepala dan jabatannya justru membuat seluruh organisasi berhenti bergerak. Guru kehilangan motivasi, inovasi mati perlahan, dan sekolah berjalan tanpa arah yang jelas.
Kepala ayam tidak pernah menghadiri pelatihan manajemen. Tidak pernah mengikuti workshop kepemimpinan. Tidak pernah memperoleh sertifikat kompetensi. Namun ia tetap menjalankan fungsi alamiahnya dengan baik. Sebagian kepala sekolah memiliki lemari penuh sertifikat, tetapi gagal mengelola konflik, gagal membangun budaya kerja, gagal menginspirasi guru, dan gagal membaca tantangan zaman.
Dalam perspektif filsafat organisasi, masalah terbesar bukanlah ketika seorang pemimpin tidak tahu segalanya. Masalah terbesar adalah ketika seseorang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Ketidaktahuan yang disadari akan melahirkan pembelajaran. Namun ketidaktahuan yang dibungkus kekuasaan melahirkan kesombongan birokratis yang sulit diperbaiki.
Akhirnya, perbedaan paling mendasar antara kepala sekolah dan kepala ayam terletak pada makna keberadaannya.
Kepala ayam ada untuk melayani kehidupan tubuhnya. dan menjadi salah satu alarm shubuh, kukk kkuruyuuuk,, hehehehe....
Sedangkan sebagian kepala sekolah justru menganggap tubuh organisasi ada untuk melayani kehidupannya.
Dan pada saat itu, yang hilang bukan sekadar kualitas kepemimpinan.
Yang hilang adalah masa depan pendidikan.
Sebab sekolah tidak pernah runtuh karena kekurangan gedung, melainkan karena kekurangan kepala yang mampu berpikir lebih jauh daripada kepentingannya sendiri. [MAMP]

0 Comments