BERKELAKAR DENGAN WAKTU
Berjalan di tengah waktu, berkelakar dengan waktu.
Merasa esok masih panjang,
merasa usia masih lapang,
seakan jarum jam adalah sahabat yang akan selalu menunggu.
Lalu terdiam dan terduduk sepi,
kemudian tersadar,
sayang sudah mati.
Banyak mahasiswa hari ini kehilangan dirinya bukan karena kekurangan kesempatan,
melainkan karena kelimpahan hiburan.
Malam-malam yang dahulu diterangi cahaya buku,
kini dipenuhi cahaya layar.
Pikiran yang seharusnya diasah oleh gagasan,
justru dibuai oleh permainan dan kesenangan yang tidak meninggalkan bekas selain lelah.
Waktu adalah guru yang tidak pernah berbicara,
tetapi selalu memberi nilai.
Ia tidak marah ketika diabaikan,
tidak mengeluh ketika disia-siakan,
namun diam-diam mencatat segala kehilangan.
Menikmati indahnya dunia membuat waktumu panjang,
karena engkau merasa masih banyak hari untuk mengulang.
Berpikir tentang akhirat membuat waktumu singkat,
karena engkau sadar setiap detik adalah bagian dari perjalanan pulang.
Betapa banyak yang sibuk merancang kesenangan,
tetapi lupa merancang kebermanfaatan.
Betapa banyak yang pandai mencari alasan,
namun malas mencari pengetahuan.
Mereka tertawa bersama waktu,
sampai akhirnya waktu meninggalkan mereka sendirian.
Ilmu tidak tumbuh pada hati yang selalu mencari hiburan.
Ia tumbuh pada jiwa yang mampu menunda kesenangan demi masa depan.
Karena peradaban tidak dibangun oleh mereka yang menghabiskan usia untuk bersiasat,
melainkan oleh mereka yang menjadikan hidup sebagai jalan manfaat.
Hidup cuma sekali.
Maka jadilah bermanfaat, bukan bersiasat.
Jadilah cahaya, bukan sekadar penikmat cahaya.
Sebab ketika usia mencapai senja,
yang tersisa bukan berapa banyak permainan yang dimenangkan,
bukan berapa lama kisah asmara dipertahankan,
melainkan berapa banyak ilmu yang diwariskan,
dan berapa banyak kebaikan yang ditinggalkan.
- - - MAMP - - -

0 Comments