Mahasiswa Disfungsional
Rajin Membaca, tetapi Lemah Daya Pikir
Di zaman globalisasi, buku tidak lagi langka, jurnal tidak lagi mahal, dan pengetahuan dapat digenggam hanya melalui layar sebesar telapak tangan. Ironisnya, ketika akses terhadap ilmu semakin terbuka, kemampuan berpikir justru semakin menyempit. Mahasiswa membaca lebih banyak halaman, tetapi memahami lebih sedikit makna. Mereka mengumpulkan kutipan, namun kehilangan kebijaksanaan. Mereka mengenal banyak teori, tetapi gagap ketika diminta melahirkan gagasan.
Globalisasi menjadikan informasi bergerak lebih cepat daripada refleksi. Akibatnya, membaca tidak lagi dipandang sebagai jalan perenungan, melainkan sekadar aktivitas konsumsi. Mahasiswa berlomba menambah referensi sebagaimana pedagang menghitung barang dagangan. Semakin banyak yang dikoleksi, semakin tinggi kebanggaan yang dirasakan. Padahal pengetahuan bukanlah tumpukan data, melainkan kemampuan mengolah makna dari data tersebut.
Lahir generasi yang rajin membaca tetapi lemah daya pikir. Mereka mampu menyebutkan pendapat para ahli, namun sulit mempertanyakan asumsi yang tersembunyi di balik pendapat itu. Mereka hafal konsep-konsep besar, tetapi kehilangan keberanian untuk meragukan, mengkritik, dan membangun perspektif baru. Pikiran mereka menjadi gudang penyimpanan, bukan ruang penciptaan.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran fungsi intelektual mahasiswa. Kampus yang dahulu menjadi arena dialektika perlahan berubah menjadi pasar informasi. Nilai akademik lebih dihargai daripada kedalaman nalar. Produktivitas lebih dipuja daripada kontemplasi. Akibatnya, lahirlah mahasiswa disfungsional: tubuhnya hadir di ruang akademik, tetapi fungsi intelektualnya tidak bekerja secara utuh.
Mereka membaca untuk menyelesaikan tugas, bukan untuk memahami kehidupan. Mereka mencari sumber untuk menghindari plagiarisme, bukan untuk menemukan kebenaran. Mereka menulis demi publikasi, bukan demi kontribusi pemikiran. Di tengah banjir informasi global, mereka justru mengalami kekeringan intelektual.
Padahal hakikat pendidikan tinggi bukanlah menghasilkan manusia yang penuh isi, melainkan manusia yang mampu mengolah isi tersebut menjadi kebijaksanaan. Membaca seharusnya menjadi jembatan menuju berpikir, dan berpikir menjadi jalan menuju pencerahan. Ketika membaca berhenti pada pengumpulan informasi, maka ilmu kehilangan ruhnya dan intelektualitas berubah menjadi sekadar administrasi pengetahuan.
Barangkali masalah terbesar generasi hari ini bukanlah kurangnya bacaan, melainkan hilangnya kemampuan untuk berhenti sejenak, merenung, dan berdialog dengan apa yang dibaca. Sebab peradaban tidak dibangun oleh orang yang paling banyak membaca, melainkan oleh mereka yang mampu memikirkan kembali apa yang dibacanya.
Dan di situlah tragedi mahasiswa modern bermula: perpustakaan semakin penuh, mesin pencari semakin canggih, referensi semakin melimpah, tetapi ruang berpikir semakin sempit. Mereka tenggelam dalam lautan informasi, namun gagal menemukan kedalaman makna. Mereka menjadi pembaca yang sibuk, tetapi bukan pemikir yang hidup. [MAMP]

0 Comments