Kuliah Fotosintesis (Refleksi Mahasiswa Pascasarjana)

Fenomena proses fontosintesis terhadap kehidupan tumbuhan. 

Dalam konteks manajerial organisasi pendidikan, fenomena yang terjadi adalah mahasiswa yang melaksanakan perkuliahan karena formalitas, khususnya mahasiswa pascasarjana. 

Ironi yang dekonstruktif, karena mereka diproyeksikan menjadi ahli konseptual dan pengambil kebijakan. Melihat bagaimana tumbuhan berfotosintesis dapat diambil hikmah bahwa apapun jenjang perkuliahan tetap harus berbasis proses. 

Karena dari proses tersebut lahirnya keberkahan dan kesehatan berpikir. 



"KULIAH FOTOSINTESIS"

Tumbuhan tidak pernah tergesa-gesa menjadi pohon. Ia tidak melompati matahari, tidak menolak hujan, tidak mempersingkat perjalanan akar menuju tanah. Setiap hari ia menjalani proses yang sama: menyerap cahaya, mengolah air, menerima udara, lalu mengubah semuanya menjadi energi kehidupan. Proses itu disebut fotosintesis. Sebuah pekerjaan sunyi yang tidak menghasilkan tepuk tangan, tetapi darinya lahir daun yang hijau, batang yang kokoh, bunga yang indah, dan buah yang bermanfaat.

Ironisnya, di ruang-ruang perkuliahan pascasarjana, terdapat fenomena yang berlawanan. Sebagian mahasiswa hadir hanya untuk memenuhi administrasi akademik, mengumpulkan tanda tangan kehadiran, menyelesaikan tugas sebagai kewajiban, dan mengejar gelar sebagai simbol. Mereka ingin menjadi pohon tanpa pernah berfotosintesis. Mereka menginginkan buah tanpa menumbuhkan akar. Mereka berharap dihormati sebagai ahli tanpa bersedia menjalani proses panjang menjadi pembelajar.

Padahal, gelar akademik sejatinya bukanlah buah pertama dari pendidikan. Buah pertama pendidikan adalah perubahan cara berpikir. Sebab seseorang dapat memperoleh ijazah dalam hitungan tahun, tetapi kedewasaan intelektual hanya lahir melalui pergulatan yang panjang dengan gagasan, bacaan, penelitian, diskusi, dan perenungan. Di sinilah tumbuhan memberikan pelajaran yang lebih jujur daripada manusia. Tumbuhan memahami bahwa tidak ada kehidupan tanpa proses pengolahan. Cahaya yang diterima tidak langsung menjadi buah; ia harus diolah terlebih dahulu melalui mekanisme yang teratur dan disiplin.

Dalam perspektif manajerial pendidikan, fenomena kuliah formalitas merupakan bentuk kegagalan memahami makna proses. Organisasi pendidikan tidak hanya memproduksi lulusan, tetapi memproduksi cara berpikir. Jika proses akademik dipersempit menjadi sekadar rutinitas administratif, maka yang lahir bukan pemimpin intelektual, melainkan pengelola kebijakan yang miskin refleksi. Mereka mungkin memiliki legitimasi formal, tetapi tidak memiliki energi konseptual untuk menerangi organisasi yang dipimpinnya.

Fotosintesis mengajarkan bahwa kualitas hasil selalu ditentukan oleh kualitas proses pengolahan. Cahaya matahari yang sama dapat menghasilkan pohon yang berbeda, tergantung bagaimana akar bekerja dan bagaimana daun mengolahnya. Demikian pula perkuliahan. Dosen yang sama, ruang kelas yang sama, dan kurikulum yang sama dapat menghasilkan kualitas lulusan yang berbeda. Perbedaannya terletak pada kesungguhan dalam menyerap, mengolah, dan mentransformasikan ilmu menjadi kebijaksanaan.

Jangan ketika memahami realitas, membuat kita terpaksa malu kepada tumbuhan yang berani berproses. 

Mulailah menghargai  "akal" sebagai salah satu hidayah Allah.  Mulailah merefleksikan diri, menikmati hidup sebagai alunan proses dengan nada kehidupan yang naik turun adalah nikmat dan keberkahan. [MAMP] 

0 Comments